More
    BerandaPendidikanSeminar Nasional Pusat Literasi Unesa Dorong Perempuan Makin Bijak, Kritis dan Mandiri...

    Seminar Nasional Pusat Literasi Unesa Dorong Perempuan Makin Bijak, Kritis dan Mandiri di Abad AI

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 26 Mei 2026  | Draft Rakyat Newsroom –  Pusat Literasi Unesa (PLU), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menggelar Seminar Daring Nasional (Sadaring) pada Sabtu, 23 Mei 2026. Acara tahunan yang telah memasuki tahun ketujuh ini mengangkat tema penting mengenai literasi untuk kesetaraan gender, dan disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom serta YouTube agar bisa diikuti masyarakat luas.

    Ketua Pusat Literasi Unesa, Kisyani Laksono melaporkan bahwa acara ini disambut sangat antusias oleh warga dari berbagai daerah. Tercatat ada 144 pendaftar yang ikut serta dari ujung Aceh hingga Papua, bahkan ada juga komunitas menulis dari negara tetangga, Malaysia.

    Menariknya, sebanyak 74 persen peserta yang hadir adalah perempuan. Mereka hadir untuk menambah wawasan tentang cara memajukan peran perempuan di zaman sekarang.

    Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang III Unesa, Bambang Sigit Widodo. Menurutnya, kegiatan ini digelar di antara momen Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional sebagai waktu yang pas untuk bercermin mengenai pendidikan perempuan di Indonesia.

    Ia juga membagikan kabar membanggakan bahwa Unesa berada di peringkat kelima nasional untuk urusan kesetaraan gender versi peringkat dunia, yang membuktikan komitmen kuat kampus dalam menghargai peran perempuan.

    Saat memberikan materi risetnya mengenai mahasiswi di Surabaya yang menggunakan kecerdasan buatan atau AI, Bambang Sigit mengingatkan agar mahasiswi tidak terlalu pasrah dan percaya begitu saja pada teknologi.

    Menurutnya, teknologi memang membantu, tetapi mahasiswi harus tetap kritis agar kemampuan berpikirnya tidak tumpul karena terlalu bergantung pada komputer atau HP.

    “Kepercayaan yang tinggi terhadap AI memang menjadi pijakan awal agar teknologi ini diterima, tetapi ketika kepercayaan tersebut bermutasi menjadi over-trust tanpa dibarengi oleh literasi kritis, maka generasi perempuan kita akan sangat rentan kehilangan kemampuan berpikir mandiri dan mengalami penurunan ketajaman refleksi akademik,” paparnya menyoroti bahaya adopsi teknologi tanpa filter.

    Selanjutnya, mantan Menteri Pendidikan Nasional sekaligus penulis buku, Wardiman Djojonegoro, ikut membagikan ilmunya tentang pentingnya memberikan sekolah yang tinggi bagi kaum perempuan.

    Menurutnya, jika perempuan pintar dan berpendidikan, mereka akan bisa ikut memajukan ekonomi, politik, dan kesehatan negara.

    Pentingnya peran perempuan ini diperjelas lagi Wakil Dekan Unesa, Isnawati, yang membawa topik lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu bagaimana seorang ibu bisa membangun negara mulai dari urusan dapur dan pekarangan rumah.

    Melengkapi diskusi tersebut, narasumber Sri Abidah Suryaningsih mengungkapkan fakta hebat bahwa sebagian besar usaha kecil atau UMKM di Indonesia ternyata dimiliki dan dikelola oleh perempuan.

    Hal ini membuktikan bahwa perempuan bukan cuma jago berbelanja, tapi juga menjadi penggerak utama bisnis yang menghasilkan uang miliaran rupiah bagi negara.

    Di akhir acara, Kepala Pusat Riset LPPM Unesa, Sari Edi Cahyaningrum, menutup kegiatan ini dengan menyampaikan harapan besar kampus agar semua ilmu yang dibagikan hari ini bisa langsung dipraktikkan.

    “Kami menaruh harapan besar agar pengalaman serta gagasan yang lahir dari sarasehan ini mampu mengakselerasi ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat, yang secara khusus menitikberatkan pada penyelenggaraan pendidikan bermutu sekaligus terwujudnya kesetaraan gender di masyarakat,” pungkasnya.(bry)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru