More
    BerandaUncategorizedDuka Bali Tak Boleh Terulang: RT Siaga Kemanusiaan "Negara tidak mungkin hadir...

    Duka Bali Tak Boleh Terulang: RT Siaga Kemanusiaan “Negara tidak mungkin hadir lebih cepat daripada tetangga.”

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya, 29 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Tragedi kemanusiaan di Bali yang merenggut nyawa seorang ayah dan menyisakan duka mendalam bagi anak-anaknya telah mengguncang hati bangsa. Tangisan seorang anak yang menyesali karena pernah meminta uang sekolah kepada ayahnya menjadi pengingat bahwa setiap tindakan kekerasan tidak pernah berhenti pada satu korban. Kekerasan selalu melahirkan korban-korban baru: anak yang kehilangan masa depan, keluarga yang kehilangan tempat bersandar, dan masyarakat yang kehilangan rasa kemanusiaannya.

    Peristiwa ini tidak boleh berhenti sebagai berita yang viral, lalu perlahan dilupakan. Duka Bali harus menjadi refleksi nasional bahwa ketika masyarakat kehilangan empati, hukum sering kali datang terlambat. Negara memang memiliki kewajiban menegakkan keadilan, tetapi negara tidak mungkin hadir lebih cepat daripada tetangga. Orang pertama yang mengetahui kesulitan seseorang adalah lingkungan terdekatnya.

    Karena itu, sudah saatnya menghidupkan kembali gotong royong melalui RT Siaga Kemanusiaan. RT tidak boleh hanya menjadi satuan administrasi, tetapi harus menjadi benteng pertama perlindungan warga. Di tingkat inilah persoalan keluarga, tekanan ekonomi, konflik sosial, kekerasan, hingga kerentanan anak dapat dikenali sejak dini sebelum berubah menjadi tragedi.

    Gagasan ini bukan dimulai dari ruang kosong. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur telah merintis model perlindungan berbasis komunitas melalui SPARTA (Sistem Perlindungan Anak Tingkat RT), Satu RT Satu Mentor, dan integrasi dengan Kampung Pancasila. Ketiga program tersebut menempatkan RT sebagai ruang hidup yang saling mengenal, saling menjaga, dan saling bertanggung jawab terhadap keselamatan setiap anak dan setiap keluarga.

    Ke depan, konsep tersebut perlu diperluas menjadi RT Siaga Kemanusiaan. Artinya, kepedulian warga tidak hanya berhenti pada perlindungan anak, tetapi juga mencakup perlindungan seluruh warga. Ketua RT, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader PKK, Karang Taruna, relawan, hingga generasi muda menjadi jejaring gotong royong yang mampu mendeteksi persoalan, memediasi konflik, menghubungkan warga dengan layanan sosial, serta menghadirkan musyawarah sebelum kemarahan berubah menjadi kekerasan.

    Tragedi Bali mengajarkan bahwa mencegah jauh lebih mulia daripada menghukum. Peradaban yang kuat bukan hanya diukur dari ketegasan hukumnya, tetapi juga dari kepekaan masyarakatnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak membiarkan seorang warganya menghadapi kesulitan sendirian.

    Karena itu, Duka Bali harus menjadi momentum menghidupkan kembali gotong royong Indonesia. Dari RT yang peduli lahir keluarga yang kuat. Dari keluarga yang kuat lahir masyarakat yang beradab. Dan dari masyarakat yang beradab, tragedi-tragedi kemanusiaan dapat dicegah sebelum terjadi.

    Duka Bali tidak boleh terulang. Mari jadikan setiap RT sebagai RT Siaga Kemanusiaan, tempat setiap warga merasa aman, setiap anak terlindungi, setiap keluarga diperhatikan, dan setiap persoalan diselesaikan dengan empati, musyawarah, serta semangat gotong royong. Sebab, menjaga kemanusiaan adalah tanggung jawab kita bersama.

    Surabaya, 29 Juli 2026

    M. Isa Ansori : Kolumnis,Pengajar Psikologi Komunikasi dan pemerhati model komunikasi transaksional analisis, Wakil ketua ICMI Jatim, Pengurus Lembaga Perlindungan Anak ( LPA ) Jatim dan Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru