Sumenep 16 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom –Tim Layanan Kesehatan Bergerak (Yankes Bergerak) Provinsi Jawa Timur melakukan pemeriksaan pasien kusta, kontak erat, serta pemberian obat pencegahan di Desa Sonok, Kecamatan Nonggunong, Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Senin (15/6/2026). Dari sepuluh orang kontak erat yang diperiksa, seluruhnya dinyatakan bebas dari tanda-tanda penyakit kusta.
Pengelola Program Kusta, Frambusia, dan Cacingan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Sulistheo Wibowo, S.KM, menjelaskan, kegiatan tersebut dilakukan dengan mendatangi langsung pasien yang sedang menjalani pengobatan, serta melakukan pemeriksaan terhadap keluarga atau kontak eratnya.
“Hari ini kami memeriksa satu pasien yang sedang dalam pengobatan dan sepuluh orang kontak eratnya. Hasilnya, tidak ditemukan kasus baru,” ujarnya.
Selain pemeriksaan, tim juga memberikan obat rifampisin dosis tunggal kepada kontak erat pasien sebagai upaya mengurangi risiko penularan penyakit ini.
Sebelumnya, pada kegiatan skrining di lokasi lain, tim menemukan tiga kasus kusta, yakni satu kasus di madrasah ibtidaiyah (MI) dan dua kasus di masyarakat. Sementara untuk wilayah Nonggunong, dalam pemeriksaan kali ini tidak ditemukan kasus baru.
Sulistheo berharap seluruh kasus kusta yang ditemukan di Kecamatan Gayam maupun Nonggunong dapat tertangani dengan baik, menjalani pengobatan hingga tuntas sehingga tidak menjadi sumber penularan di lingkungan sekitarnya. “Masyarakat yang menjadi kontak erat tidak perlu khawatir karena akan diberikan obat pencegahan,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat mengenali tanda-tanda awal penyakit kusta. Salah satu cirinya adalah munculnya bercak putih atau merah pada kulit yang tidak terasa gatal, tidak sakit, dan tidak sembuh dengan obat kulit biasa.
“Kalau masyarakat menemukan tanda tersebut, segera datang ke fasilitas kesehatan atau Puskesmas agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Untuk mendukung deteksi dini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyediakan aplikasi SiJelita (Aplikasi Jawa Timur Eliminasi Kusta) yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan skrining mandiri.
Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui indikasi awal apakah berisiko atau terduga kusta. Data hasil skrining nantinya akan tercatat di tingkat Puskesmas maupun kabupaten/kota untuk dilakukan tindak lanjut.
Ia juga mengajak masyarakat agar tidak memberikan stigma atau mengucilkan pasien kusta. Dukungan keluarga dan lingkungan dinilai penting agar pasien mau menjalani pengobatan hingga sembuh.
“Pasien kusta jangan dikucilkan. Berikan motivasi dan dukungan, karena semakin pasien bersembunyi, maka penanganannya akan semakin terlambat,” ujarnya.
Dalam upaya menekan kasus kusta di wilayah Madura dan kepulauan, diperlukan kerja sama lintas sektor, dukungan pemerintah daerah, kegiatan surveilans aktif, pemberian obat pencegahan bagi kontak erat kasus baru, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader masyarakat. (pca)
