Lumajang 16 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika aroma khas kedelai rebus mulai memenuhi sudut rumah sederhana di Desa Labruk Lor, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang. Dari dapur kecil itulah, sebuah warisan keluarga terus dijaga, bukan hanya sebagai usaha mencari penghasilan, tetapi sebagai cerita panjang tentang ketekunan, kemandirian, dan harapan yang diwariskan lintas generasi.
Di antara aktivitas merendam kedelai, merebus, hingga proses fermentasi, Umi Jamilah menjalankan amanah yang telah dimulai keluarganya puluhan tahun lalu. Tangannya kini meneruskan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh nenek, ibu, dan ayahnya.
Bagi sebagian orang, tempe mungkin hanya makanan sederhana yang hampir selalu hadir di meja makan. Namun bagi Umi, setiap bungkus tempe menyimpan perjalanan panjang sebuah keluarga dalam mempertahankan kehidupan melalui usaha yang tumbuh dari rumah sendiri.
“Saya sudah generasi ketiga. Dari nenek, terus ibu, lalu ayah. Sekarang saya yang meneruskan,” ujar Umi, Senin (15/6/2026).
Sejak kecil, Umi sudah terbiasa dengan dunia produksi tempe. Ia tumbuh bersama aroma fermentasi kedelai dan rutinitas keluarga yang setiap hari memastikan kualitas tempe tetap terjaga.
Kini, estafet usaha itu berada di pundaknya.
Bukan sekadar meneruskan pekerjaan keluarga, Umi juga menjaga nilai yang lebih besar: bagaimana usaha kecil dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dari Dapur Keluarga Menjadi Penggerak Ekonomi Warga
Di balik rumah produksi sederhana itu, terdapat aktivitas ekonomi yang memberi manfaat lebih luas.
Umi tidak hanya memproduksi tempe untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, tetapi juga melibatkan warga sekitar dalam proses usaha. Bagi dirinya, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari keuntungan pribadi, melainkan dari kemampuan menghadirkan manfaat bagi lingkungan.
“Alhamdulillah bisa membantu ekonomi keluarga. Bisa mengajak teman-teman dan kelompok-kelompok untuk ikut bekerja,” tuturnya.
Semangat tersebut menjadi gambaran bagaimana usaha mikro berbasis keluarga dapat berkembang menjadi bagian dari ekonomi masyarakat.
Sebuah usaha kecil yang tumbuh dari keterampilan sederhana, tetapi mampu menciptakan peluang bagi orang lain.
Merawat Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Setiap hari, proses produksi tempe dimulai sejak pagi.
Kedelai direndam semalaman, kemudian direbus, dibersihkan, diberi ragi, dan melalui proses fermentasi yang membutuhkan ketelitian. Tidak ada tahapan yang bisa dilakukan secara tergesa-gesa, karena kualitas tempe sangat bergantung pada pengalaman dan ketelatenan pembuatnya.
Bagi Umi, membuat tempe bukan hanya pekerjaan rutin.
Ada pengetahuan keluarga yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Mulai dari memilih bahan baku, menjaga proses fermentasi, hingga memastikan cita rasa tetap sesuai dengan harapan pelanggan.
Pengetahuan sederhana itulah yang membuat usaha tersebut mampu bertahan hingga puluhan tahun.
Namun perjalanan mempertahankan usaha tradisional tidak selalu mudah.
Bertahan di Tengah Tantangan Bahan Baku dan Pasar
Dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan harga kedelai menjadi tantangan besar bagi para perajin tempe.
Harga bahan baku yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.000 per kilogram kini meningkat hingga sekitar Rp13.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat biaya produksi ikut meningkat.
“Harga kedelai naik terus. Dulu sekitar Rp8.000, sekarang sudah Rp13.000 per kilogram,” katanya.
Kondisi itu membuat Umi harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Harga jual tempe yang sebelumnya sekitar Rp5.000 per bungkus kini disesuaikan menjadi Rp7.000.
Penyesuaian harga dilakukan agar usaha tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas produk.
“Tetap dijual, hanya harganya naik sedikit. Kalau tidak begitu, sulit untuk menutup biaya produksi,” ujarnya.
Selain bahan baku, tantangan lain yang dirasakan adalah pemasaran.
Menurut Umi, kemampuan memproduksi tempe saja belum cukup. Pelaku usaha juga perlu memperluas pasar agar produk lokal mampu bertahan di tengah persaingan.
“Yang susah sekarang itu pemasarannya,” katanya.
Pemerintah Hadir Menguatkan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal
Perjuangan pelaku usaha seperti Umi menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Lumajang.
Bupati Lumajang Indah Amperawati atau yang akrab disapa Bunda Indah menilai, usaha mikro berbasis produk lokal memiliki peran penting dalam membangun ekonomi masyarakat yang kuat dan berkelanjutan.
Menurutnya, usaha yang tumbuh dari keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki nilai lebih karena tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga menjaga keterampilan lokal dan membuka kesempatan kerja.
“Produk lokal yang diwariskan turun-temurun harus terus diberi ruang untuk berkembang. Karena di balik sebuah usaha kecil, ada keluarga yang menggantungkan hidup, ada masyarakat yang ikut bekerja, dan ada kearifan lokal yang harus kita jaga,” ujar Bunda Indah.
Ia mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong penguatan UMKM melalui pendampingan, peningkatan kapasitas usaha, pengembangan pemasaran, serta pemanfaatan berbagai peluang agar produk lokal mampu naik kelas.
“Ekonomi masyarakat akan semakin kuat ketika potensi lokal dikembangkan bersama. Pemerintah hadir untuk mendampingi agar usaha kecil tidak berjalan sendiri,” tambahnya.
Bagi Bunda Indah, keberhasilan UMKM bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mampu berdiri dengan kekuatan yang mereka miliki sendiri.
Menjaga Harapan agar Warisan Tidak Berhenti
Meski menghadapi berbagai tantangan, Umi tidak kehilangan keyakinan.
Ia masih menyimpan harapan agar kelompok-kelompok usaha yang pernah berjalan dapat kembali aktif, sehingga semakin banyak warga yang memperoleh manfaat dari usaha berbasis rumah tangga.
“Saya ingin kelompok itu berkembang lagi. Dulu sempat vakum, sekarang ingin dihidupkan kembali,” ungkapnya.
Harapan tersebut menunjukkan bahwa usaha tempe bukan hanya tentang membuat produk pangan, tetapi juga tentang membangun jejaring ekonomi dan memperkuat kemandirian masyarakat.
Kisah Umi Jamilah adalah potret kecil bagaimana ekonomi rakyat terus bergerak dari ruang-ruang sederhana.
Tidak selalu dengan modal besar. Tidak selalu dengan teknologi modern. Namun dengan ketekunan, pengalaman, dan keberanian untuk terus beradaptasi.
Dari Desa Labruk Lor, Lumajang menunjukkan bahwa warisan keluarga dapat menjadi kekuatan ekonomi ketika dijaga dan dikembangkan bersama.
Sebab dalam sebungkus tempe sederhana, ada lebih dari sekadar pangan.
Ada cerita tiga generasi yang bertahan, ada warga yang ikut diberdayakan, dan ada harapan bahwa usaha kecil hari ini dapat menjadi fondasi ekonomi masyarakat untuk masa depan. (MC Kab. Lumajang)
