Surabaya, 20 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengintensifkan strategi pembuat sekat bakar guna mengatasi kendala geografis dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah kawasan pegunungan.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menjelaskan, tantangan utama dalam penanganan karhutla saat ini adalah kondisi medan yang curam serta titik api yang tidak dapat dijangkau melalui jalur darat.
“Kata kuncinya adalah patroli. Ada lokasi kebakaran yang bisa dijangkau dan ada yang tidak bisa dijangkau. Yang tidak bisa dijangkau, fokus kita adalah antisipasi dengan membuat sekat bakar agar api tidak melebar ke pemukiman warga maupun memperluas area kebakaran,” ujar Emil saat ditemui usai paripurna di DPRD Jatim, Surabaya, Senin (19/10/2026).
Berdasarkan data pemantauan, karhutla melanda sedikitnya lima hingga tujuh kawasan pegunungan dan perbukitan di Jawa Timur, meliputi area Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Gunung Arjuno, Gunung Ringgit Situbondo, Gunung Argopuro, hingga Pusung Lingker di Probolinggo. BMKG Juanda mencatat wilayah dengan tingkat kewaspadaan tinggi meliputi Probolinggo, Mojokerto, Bondowoso, Jember, dan Pasuruan.
Emil memaparkan, berdasarkan pemetaan titik api sejak Agustus hingga saat ini, sebanyak 79 persen berada di kawasan konservasi, 14 persen di wilayah Perum Perhutani, dan 7 persen berada di Tahura Raden Soerjo yang menjadi kewenangan langsung Pemprov Jatim.
Untuk melokalisasi pergerakan api di medan curam tersebut, Pemprov Jatim mengerahkan personel gabungan secara sinergis. Sebanyak 53 anggota Manggala Agni Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur disiagakan bersama Polisi Hutan (Polhut) dan relawan terlatih.
“Kombinasi antara Polisi Hutan, Manggala Agni, dan relawan terlatih bahu-membahu melakukan pemadaman serta penyekatan. Namun, saya tegaskan kata kuncinya: keselamatan petugas adalah prioritas nomor satu, tidak boleh ada petugas yang menjadi korban,” tegas Emil.
Terkait dukungan pemadaman udara (water bombing), Emil mengakui alokasi armada udara nasional saat ini masih terfokus pada penanganan karhutla di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Kendati demikian, Pemprov Jatim terus berkoordinasi intensif dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membuka akses bantuan armada udara jika eskalasi di lapangan membutuhkan intervensi udara.
Insiden karhutla di kawasan TNBTS dan Probolinggo sebelumnya telah menelan empat korban jiwa dari unsur petugas saat proses pemadaman, serta menyebabkan beberapa orang lainnya mengalami luka bakar serius.
Menanggapi kondisi korban luka bakar yang tengah menjalani perawatan, Emil mengungkapkan bahwa dua korban saat ini masih berada dalam penanganan medis intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya.
“Dua korban kondisinya masih sangat kritis di RSUD Dr. Soetomo. Setiap hari kami terus memantau update perkembangan medisnya karena luka bakarnya cukup serius. Pemantauan dan perawatan intensif di ICU terus dilakukan oleh tim dokter, mari kita doakan yang terbaik untuk kesembuhan mereka,” pungkas Emil. (pca)
