Surabaya, 20 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM) memperkuat infrastruktur transmisi listrik untuk mengimbangi pertumbuhan industri dan investasi di Jawa Timur. Pengembangan jaringan difokuskan pada kawasan metropolitan Surabaya, Pasuruan, Gresik, dan Banyuwangi yang membutuhkan pasokan listrik andal untuk mendukung aktivitas ekonomi.
General Manager PLN UIT JBM, Ika Sudarmaja, mengatakan penguatan infrastruktur transmisi menjadi kebutuhan mendesak seiring pembangunan industri dan masuknya investasi baru di sejumlah wilayah Jawa Timur. Ketersediaan listrik tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga menjadi faktor penting dalam menjaga kenyamanan investor dan kelancaran operasional industri.
“Pembangunan industri secara masif, khususnya di kawasan metropolitan seperti Surabaya, membuat ketersediaan listrik menjadi sangat penting. Begitu juga Banyuwangi, Pasuruan, dan Gresik yang berkembang pesat,” ujarnya dalam kegiatan Media Briefing dan Forum Silaturahmi Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81 PLN UIT JBM di Kantor UPT Surabaya, Senin (19/10/2026).
Ika menjelaskan, sejumlah proyek industri berskala besar, termasuk industri pengolahan tembaga, industri kaca di Kawasan Industri Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, serta sektor manufaktur lainnya, membutuhkan dukungan pasokan listrik yang memadai.
Karena itu, PLN terus mengembangkan infrastruktur transmisi agar mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan listrik sekaligus mendukung ekspansi industri dan penciptaan lapangan kerja. “PLN merupakan bagian dari alat negara untuk menyediakan kelistrikan. Kami ingin memastikan investor tetap nyaman berinvestasi di Indonesia sehingga kegiatan ekonomi terus berputar,” katanya.
Perkuat Transmisi 500 kV
Salah satu fokus pengembangan berada di kawasan metropolitan Surabaya. Ika menyebut, saat ini kawasan tersebut ditopang dua gardu induk (GI) bertegangan 500 kilovolt (kV), yakni GI Gresik dan GI Krian. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam memperkuat jaringan transmisi untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan listrik perkotaan dan industri.
PLN saat ini membangun GI 500 kV di Waru, Sidoarjo, beserta infrastruktur transmisinya. Pengembangan dilakukan dengan mengganti jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV yang ada dengan kabel bawah tanah. Ruang jalur transmisi tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan jaringan tegangan ekstra tinggi 500 kV. “Sekarang kita sedang membangun GI 500 kV di Waru, termasuk transmisinya. Saluran 150 kV yang lama kita ganti dengan kabel bawah tanah, sedangkan jalur yang ada dimanfaatkan untuk membangun saluran 500 kV. Ini untuk menopang kawasan metropolitan,” jelasnya.
Penguatan jaringan juga direncanakan di wilayah Surabaya Selatan. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan karena jalur transmisi beririsan dengan kawasan pendekatan pendaratan pesawat dan landasan pacu. Aspek keselamatan penerbangan perlu diselesaikan sebelum pembangunan dapat dilaksanakan.
Sebagai alternatif, PLN merencanakan pengalihan jalur transmisi 500 kV dari Waru menuju Grati, Pasuruan, untuk melayani kebutuhan pelanggan besar di wilayah tersebut. Sementara itu, penguatan jaringan menuju Surabaya Selatan tetap masuk dalam rencana pengembangan sistem kelistrikan jangka panjang.
Banyuwangi hingga Madura Jadi Perhatian
Selain kawasan metropolitan Surabaya, Banyuwangi menjadi wilayah yang membutuhkan penguatan jaringan transmisi seiring pertumbuhan sektor pariwisata, perhotelan, dan industri. Saat ini, pasokan listrik Banyuwangi dan sekitarnya masih mengandalkan jaringan dari GI 500 kV Paiton. Sementara itu, jaringan transmisi 500 kV belum menjangkau wilayah tersebut.
Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan listrik, PLN merencanakan pembangunan transmisi 500 kV dari Paiton menuju Kalipuro, Banyuwangi, yang selanjutnya direncanakan terhubung dengan sistem kelistrikan Bali. “Di Banyuwangi dan sekitarnya saat ini belum ada transmisi 500 kV. Padahal, perkembangan hotel dan industrinya luar biasa. Karena itu, jaringan ini perlu diperkuat untuk mendukung kebutuhan listrik ke depan,” kata Ika.
Rencana pembangunan tersebut telah memasuki tahap penentuan lokasi bersama pemerintah daerah. Meski demikian, proyek masih menghadapi tantangan perizinan karena jalur yang direncanakan melintasi kawasan hutan Baluran. Pemenuhan persyaratan pemanfaatan kawasan hutan diperlukan agar pembangunan berjalan sesuai ketentuan. Penguatan transmisi juga dibutuhkan di Madura, terutama pada jalur Bangkalan–Sampang, yang kapasitas infrastrukturnya semakin terbatas. Selain itu, PLN menyiapkan pengembangan infrastruktur kelistrikan untuk mendukung pertumbuhan industri di Ngoro, Bangil, Madiun, dan Ngawi. Sejumlah gardu induk dan jaringan transmisi baru diperlukan untuk meningkatkan kapasitas penyaluran listrik seiring bertambahnya kebutuhan energi di kawasan industri tersebut.
Ika menjelaskan, PLN UIT JBM mengelola infrastruktur transmisi yang menjadi tulang punggung penyaluran listrik di wilayah Jawa Bagian Timur dan Bali. Infrastruktur tersebut meliputi 173 gardu induk, terdiri atas 147 gardu induk dengan teknologi air insulated switchgear (AIS) dan 26 gardu induk gas insulated switchgear (GIS). PLN UIT JBM juga mengoperasikan 397 unit transformator dengan kapasitas total 29.375 megavolt ampere (MVA), serta empat unit transformator bergerak berkapasitas total 120 MVA. Adapun panjang keseluruhan jaringan transmisi yang dikelola mencapai 8.329,39 kilometer sirkuit (kms).
Menurut Ika, sistem kelistrikan Jawa Bagian Timur dan Bali saat ini memiliki daya mampu sekitar 9.000 megawatt (MW), sedangkan kebutuhan listrik mencapai sekitar 7.000 MW.Untuk menjaga keandalan pasokan, PLN tidak hanya membangun infrastruktur baru, tetapi juga melakukan pemeliharaan jaringan yang telah beroperasi. “Tantangan kami bukan hanya membangun infrastruktur baru, tetapi juga menjaga keandalan jaringan yang sudah ada agar pasokan listrik tetap aman dan aktivitas masyarakat maupun industri tidak terganggu,” ujarnya.
Ika juga mengingatkan potensi gangguan transmisi akibat aktivitas bermain layang-layang di sekitar jaringan listrik, terutama di Bali, Paiton, Situbondo, dan Bangkalan. Benang layangan, khususnya yang menggunakan kawat, berisiko mengganggu jaringan dan merusak peralatan kelistrikan. Ia mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan kawat pada layang-layang, tidak membiarkannya terbang tanpa pengawasan, serta menghindari area di sekitar jaringan transmisi. “Kami tidak melarang masyarakat bermain layangan. Namun, mohon diperhatikan keselamatannya, jangan menggunakan kawat, jangan dibiarkan tanpa pengawasan, dan jangan bermain dekat jaringan transmisi,” pungkasnya. (hjr)
