Surabaya 15 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Poltekkes Kemenkes Surabaya melalui Jurusan Kesehatan Lingkungan memperkuat upaya mitigasi bencana di Desa Wisata Sawahan, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, melalui program Pendampingan Berkelanjutan Desa Wisata Sehat, Tanggap, dan Tangguh Bencana sepanjang tahun 2026. Program yang dimulai pada Senin (15/6/2026) ini digelar bersama Pemerintah Desa Sawahan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kesehatan, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Trenggalek.
Pendampingan tersebut bertujuan memastikan pengembangan sektor pariwisata berjalan aman, sehat, sekaligus berkelanjutan di tengah tingginya potensi bencana yang dimiliki kawasan tersebut. Desa Sawahan dikenal memiliki berbagai potensi wisata, mulai dari pantai, agrowisata durian, hingga panorama alam pesisir selatan. Namun, wilayah ini juga masuk dalam zona rawan longsor dan abrasi sehingga diperlukan langkah mitigasi yang terencana dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Ketua Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Surabaya, Dr. Khambali, ST., MPPM, mengatakan pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam, tetapi juga harus dibarengi dengan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana. “Desa Sawahan memiliki potensi wisata yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kawasan wisata ini tetap berkembang tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Karena itu, kami melakukan pendampingan berkelanjutan agar masyarakat memiliki kapasitas menghadapi risiko bencana sekaligus mampu mewujudkan desa wisata yang sehat, tanggap, dan tangguh bencana,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program pendampingan selama 2026 mencakup penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Desa dan Kelompok Siaga Bencana (KSB), penyuluhan Upaya Bijak Mengurangi Risiko Bencana kepada perangkat desa, RT/RW, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kader, tokoh masyarakat, dan warga. Selain itu, program juga meliputi pembangunan jalur evakuasi dan titik kumpul aman di kawasan wisata, pembuatan rorak resapan, penanaman 100 batang pohon aren dan vetiver di lereng rawan longsor, pendampingan penerapan standar Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) bagi homestay, serta simulasi evakuasi bencana.
Kepala Desa Sawahan, Yani Prasongko, mengatakan keberhasilan program sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Karena itu, pemerintah desa mengajak seluruh warga terlibat aktif dalam setiap tahapan kegiatan. “Kunci keberhasilan ada di warga. Program 1 Rumah 1 Biopori dan Tanam 1 Pohon Aren kami gulirkan agar mitigasi dimulai dari pekarangan rumah dan kawasan yang berpotensi longsor. Warga juga ikut membuat peta risiko dan jalur evakuasi desa,” katanya.
Melalui program ini, Desa Sawahan menargetkan pada akhir 2026 memiliki dokumen Kajian Risiko Bencana yang mutakhir, seluruh destinasi wisata dilengkapi jalur evakuasi beserta rambu keselamatan, sedikitnya 80 persen masyarakat memahami tanda-tanda awal bencana, serta memperoleh verifikasi sebagai Desa Tangguh Bencana Madya dari BPBD Provinsi Jawa Timur.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sawahan, Unik Winarsih, optimistis pendampingan tersebut akan menjadi fondasi bagi pengembangan pariwisata yang lebih berkualitas. “Wisata tidak cukup hanya indah. Wisata harus sehat, tanggap, dan tangguh bencana. Jika Desa Sawahan berhasil, konsep Desa Wisata Sehat, Tanggap, dan Tangguh Bencana ini akan menjadi role model bagi desa-desa wisata lainnya di Trenggalek,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, Desa Sawahan diharapkan mampu menjadi contoh pengembangan desa wisata yang tidak hanya mengedepankan daya tarik destinasi, tetapi juga mengutamakan keselamatan, kesehatan lingkungan, dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. (hjr)
