Lumajang 17 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Tradisi Grebeg Suro kembali digelar masyarakat Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Selasa (16/6/2026). Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas keberadaan mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga di kaki Gunung Semeru.
Puluhan warga mengarak gunungan hasil bumi menuju kawasan mata air yang menjadi pusat pelaksanaan tradisi. Jagung, padi, sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil pertanian disusun membentuk gunungan sebagai simbol kemakmuran serta ungkapan terima kasih atas hasil panen dan kelimpahan sumber daya alam yang diterima masyarakat.
Bagi warga Sumbermujur, mata air bukan sekadar sumber daya alam, melainkan anugerah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Mata air tersebut telah menghidupi ribuan warga, mengairi lahan pertanian, memenuhi kebutuhan rumah tangga, sekaligus menjadi penopang kehidupan masyarakat di lereng Semeru.
Kepala Desa Sumbermujur, Yayuk Sri Rahayu, mengatakan Grebeg Suro merupakan warisan budaya yang terus dilestarikan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
“Tradisi ini bukan hanya tentang budaya, tetapi juga tentang kesadaran bersama untuk menjaga sumber kehidupan. Melalui Grebeg Suro, masyarakat diajak untuk terus merawat lingkungan dan menghargai warisan yang telah dijaga oleh para leluhur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tradisi ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat untuk memperkuat kepedulian terhadap sumber daya air dan lingkungan sekitar.
Prosesi Grebeg Suro diawali dengan arak-arakan gunungan hasil bumi yang diikuti masyarakat dari berbagai kalangan, mulai anak-anak, pemuda, tokoh masyarakat hingga para sesepuh desa. Mereka bersama-sama mengiringi gunungan menuju kawasan mata air sambil memanjatkan doa dan ungkapan syukur.
Salah satu prosesi yang menjadi ciri khas tradisi ini adalah memendam kepala sapi di sekitar kawasan mata air. Bagi masyarakat setempat, prosesi tersebut merupakan simbol penghormatan dan rasa terima kasih atas anugerah alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan bersama.
Desa Sumbermujur sendiri dikenal memiliki kawasan hutan bambu yang menjadi salah satu ikon wisata di Kabupaten Lumajang. Selain menjadi destinasi wisata alam, kawasan hijau tersebut juga berperan penting dalam menjaga kelestarian sumber-sumber air yang menghidupi masyarakat sekitar.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan dan perubahan iklim, Grebeg Suro menjadi pengingat bahwa kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Melalui tradisi yang terus dijaga, masyarakat Sumbermujur menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat berjalan seiring dengan semangat pembangunan berkelanjutan.
Ketika prosesi doa selesai dan gunungan hasil bumi dibagikan kepada warga, yang sesungguhnya diwariskan bukan hanya hasil panen, melainkan juga pesan tentang pentingnya menjaga air, merawat alam, dan menumbuhkan rasa syukur yang terus mengalir dari generasi ke generasi. (MC Kabupaten Lumajang)
