Surabaya 19 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Instrumentation and Energy Research Community (IMERCY) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (BEM FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) tahun 2026. Program tersebut merupakan salah satu skema pendanaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Pendanaan tersebut digunakan untuk menjalankan program bertajuk SIGAP: Sistem Terintegrasi Budidaya Kepiting Bakau Berbasis RAS, IoT, dan Energi Surya untuk meningkatkan produktivitas di Desa Tanjangawan, Gresik. Program ini mengintegrasikan inovasi teknologi budidaya dan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan produktivitas kepiting bakau.
Inovasi SIGAP
Akiqotus Syahriyah, ketua tim SIGAP, menyampaikan bahwa program ini mengintegrasikan beberapa teknologi. Di antaranya Recirculating Aquaculture System (RAS), Internet of Things (IoT), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta konsep Vertical Crab House (VCH).
“Integrasi teknologi dalam program ini bertujuan untuk menciptakan proses budidaya yang lebih efisien, mudah dipantau secara real time, dan biaya operasional lebih terkontrol. Kemudian konsep VCH dipilih untuk mengoptimalkan penggunaan lahan budidaya dan menekan risiko kanibalisme kepiting bakau, ” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Desa Tanjangawan dipilih karena menjadi salah satu sentra produksi kepiting di Kabupaten Gresik dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai pembudidaya kepiting bakau. Namun potensi tersebut tidak dapat dioptimalkan karena masyarakatnya menghadapi sejumlah kendala dalam proses budidaya.
“Kendala yang dihadapi oleh masyarakat Desa Tanjangawan dalam budidaya kepiting yakni tingkat kelangsungan hidup kepiting belum optimal dan keterbatasan penerapan teknologi. Maka dari itu, SIGAP hadir agar masyarakat mampu mengembangkan sistem budidaya secara mandiri,” ungkapnya.
Solusi Budidaya Preventif
Ahmad Fadhil Damarmanah, salah seorang anggota tim menjelaskan bahwa program SIGAP dirancang untuk mendorong perubahan pola budidaya di Desa Tanjangawan. Menurutnya, masyarakat sebelumnya cenderung bertindak setelah masalah budidaya muncul. Namun, kini diarahkan untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan sejak dini.
“Dengan pemantauan kualitas air secara real-time melalui teknologi IoT, para pembudidaya dapat mengambil langkah cepat ketika terjadi perubahan kondisi lingkungan. Hal itu diharapkan dapat mengurangi risiko kematian kepiting akibat penyakit maupun penurunan kualitas air,” jelasnya.
Selain menghadirkan inovasi teknologi budidaya, program SIGAP juga berfokus pada pelatihan dan pendampingan masyarakat. Tim berharap kelompok pembudidaya dapat mengembangkan sistem ini secara mandiri untuk kedepannya.
“Kami ingin membentuk kelompok smart crab farming yang mampu mengelola sistem ini secara berkelanjutan. Harapannya, inovasi ini dapat direplikasi di wilayah lain dan mendorong pemanfaatan teknologi dalam sektor budidaya perikanan Indonesia,” pungkasnya.(naf)
