Jakarta, 31 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Keterbatasan ekonomi dan minimnya ruang pengembangan diri tidak menyurutkan semangat anak muda Wonogiri untuk berkarya. Melalui Wonogiri Youth Forum (WYF), mereka berupaya menghadirkan wadah bagi generasi muda agar lebih berdaya, berintegritas, dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Semangat tersebut turut dibawa Wonogiri Youth Forum dalam Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Jumat (30/10). Dalam kegiatan tersebut, WYF ambil bagian dalam lomba Stand Komunitas Anak Muda dengan mengangkat tujuh isu prioritas kepemudaan.
Ketujuh isu tersebut meliputi Leadership and Empowerment, Education and Literacy, Sustainable Development, Climate Action, Gender and Inclusion, Mental Health, serta Youth Entrepreneurship.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Pemberdayaan Sosial WYF, Husain Abdurahim, mengatakan organisasi tersebut dibentuk sebagai wadah pengembangan potensi pemuda di Kabupaten Wonogiri, mulai dari jenjang SMP hingga SMA.
“Latar belakang terbentuknya Wonogiri Youth Forum karena kami melihat banyak pemuda di Wonogiri yang belum terlalu mengenal organisasi, belum berkembang, dan masih membutuhkan wadah yang bagus untuk mengembangkan diri. Akhirnya, kami membentuk Wonogiri Youth Forum sebagai wadah pemuda-pemuda berintegritas,” ujar Husain.
Upaya pengembangan tersebut turut membuahkan sejumlah pencapaian. WYF berhasil meraih penghargaan sebagai organisasi kepemudaan berprestasi di Jawa Tengah pada 2024 dan 2026, serta menjadi pemenang program komunitas Kemenpora pada 2025.
“Bagi kami, beberapa pencapaian tersebut menjadi motivasi untuk terus memperluas kontribusi organisasi, terutama dalam mengembangkan potensi anak muda yang selama ini belum banyak tereksplorasi,” jelasnya.
Salah satu potensi yang menjadi perhatian WYF adalah kewirausahaan. Husain melihat banyak anak muda Wonogiri memiliki kreativitas untuk mengembangkan produk lokal, seperti nasi tiwul, nasi gaplek, hingga berbagai produk kuliner lainnya. Namun, keterbatasan modal dan jaringan masih menjadi tantangan dalam mengembangkan usaha tersebut.
Karena itu, WYF menghadirkan program Youth Entrepreneurship, salah satunya melalui pendampingan sertifikasi halal bagi produk nasi tiwul instan.
“Sebetulnya banyak potensi anak muda Wonogiri, terutama di bidang UMKM. Mereka ingin membuat produk-produk lokal, tetapi terkendala keterbatasan ekonomi dan koneksi. Makanya, kami menghadirkan program pendampingan sertifikasi halal dan masih banyak program lainnya,” ungkapnya.
Keikutsertaan dalam IYS 2026 juga menjadi pengalaman berharga bagi Husain. Siswa kelas XII SMA IT El Huda Wonogiri tersebut mendapatkan perspektif baru setelah bertemu dengan berbagai komunitas dan organisasi kepemudaan dari sejumlah daerah.
Ia sempat mempertanyakan kemampuan komunitas dari daerah untuk bersaing dengan organisasi yang lebih besar. Namun, pengalaman mengikuti IYS 2026 justru semakin menguatkan keyakinannya.
“Awalnya saya berpikir, kita ini dari kampung, apa bisa mengimbangi organisasi-organisasi yang ada di Jakarta? Tetapi setelah melihat banyak komunitas keren di sini, saya semakin yakin bahwa suatu saat Wonogiri melalui Wonogiri Youth Forum bisa dikenal lebih luas, bahkan di tingkat nasional,” ungkapnya.
Husain menilai anak muda Wonogiri memiliki keberanian dan potensi besar. Namun, kesempatan untuk menunjukkan kemampuan tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan ekonomi dan jaringan hingga pandangan sebelah mata terhadap pemuda dari daerah.
“Anak muda Wonogiri itu sebenarnya berani berpendapat, tetapi terkadang terhalang ruang, keterbatasan ekonomi, relasi, dan kadang dipandang sebelah mata. Saya ingin menunjukkan bahwa anak muda dari pelosok dan kampung juga bisa bersaing di Jakarta,” tegasnya.
Menjelang 100 Tahun Sumpah Pemuda pada 2028, Husain turut mengajak generasi muda Indonesia untuk menjaga semangat persatuan dan nasionalisme melalui cara-cara yang relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, perjuangan pemuda saat ini tidak lagi dilakukan melalui peperangan, melainkan melalui pertukaran gagasan, kolaborasi, dan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
“Alhamdulillah, sekarang kita sudah tidak berperang. Namun, kita masih bisa berjuang dengan bertukar pikiran, saling menyatukan satu sama lain, dan memajukan bangsa Indonesia,” tuturnya.
Memiliki cita-cita menjadi anggota DPR RI, Husain berharap pengalaman berorganisasi dan bertemu dengan banyak anak muda dari berbagai daerah dapat menjadi bekal untuk memperluas jejaring kolaborasi di masa depan.
Baginya, IYS 2026 menjadi ruang untuk membuka wawasan, bertukar pengalaman, dan membangun keyakinan bahwa pemuda dari daerah memiliki kesempatan yang sama untuk membawa perubahan.
Dari Wonogiri, Husain ingin membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Sebab, potensi anak muda Indonesia tidak hanya tumbuh di kota-kota besar, tetapi juga hadir dari pelosok negeri. (ben)
